Minggu, 25 Desember 2016

Menggantang Langit, Meraih Mega



Cilacap,  26 Rabiul Awal 1438H



Assalamualaikum from the other sky





Semangat Lillah!!
To: who have so much effort to realize and reach him/her dream.

Jumat, 02 Desember 2016

Doa: Bertahan pada pilihan


Sabtu, 3 Desember 2016


Setiap orang akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan maupun yang telah diucapkan.  Aku setuju.  Sepenuhnya setuju.
Teringat dulu, memutuskan untuk masuk ke sekolah menengah atas di Magelang adalah suatu hal yang sulit.  Alhasil, sekolah di sana memang hal yang begitu rumit.  Tidak perlu dijelaskan mengapa rasanya rumit.  Padahal yang dilakukan adalah bersekolah. Memang banyak hal yang tidak harus dijelaskan. Alhamdulillah, kerumitan-kerumitan itu bisa terlewati.  Hari demi hari, walaupun terasa berat dan yah, bisa dikatakan ‘rumit’ telah membuat jiwa terasa kosong.  Hari-hari itu, tawa adalah obat mujarab mengisi sebagian kekosongan itu.  Tapi, itulah hakikat tawa.  Semakin lama, semakin kau sadari bahwa tawa itu sendiri adalah sebuah kebohongan.  Tidak ada yang bisa menggantikan pengisi kekosongan hati yang hakiki kecuali doa.
Doa lah yang membuatku teringat pada kebesaran Allah.  Doa adalah teman sejatiku selama hati terasa kosong walaupun wajah terlihat bahagia.  Doa adalah senjata terakhirku menghadapi kerumitan hidup itu.  Dan dengan doa lah aku merasa bisa mendekat pada Allah walaupun hanya satu langkah.  Tentu saja aku tidak lupa pada doa-doa yang orang lain panjatkan juga pada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.  Mereka yang selalu dengan tulus berdoa untuk keselamatan dan keberhasilanku, di setiap waktu.  Aku mungkin tidak tahu, atau mungkin memang tidak peka pada apa yang sudah orang lain doakan untukku.  Tapi, detik ini ada yang harus kubayar atas lupaku pada doa mereka di waktu yang lampau:” Terima Kasih, semoga begitu juga dengan anda”.
Saat ini aku tidak mengagungkan doa itu sendiri melainkan mengagungkan kepada siapa doa itu dimintakan.  Dia yang selalu dimintai terkabulnya doa-lah, yang membuatku bisa bertahan sampai detik ini, sampai baru menyadari betapa tidak tahu beruntungnya aku yang selalu mengeluh di atas penderitaan yang tidak seberapa dibanding kenikmatan yang begitu berlimpah.  Dia yang selalu di dekatku, walau aku tidak peduli, dan hanya peduli ketika merasa nyawaku terancam.  Dia yang selalu menjawab doa-doaku lewat takdir terbaik dari-Nya.  Dia yang ...begitu banyak hal baik sampai kau sendiri akan berpikir ‘Tuhan, mengapa Engkau begitu baik padaku yang banyak dosa ini?’. Aku yakin itu.
Kini tibalah masanya saat sebagian doaku yang dulu selalu kupanjatkan agar dikabulkan, yang selalu aku mintakan lewat doa-doa kecil yang bagi orang lain mungkin itu sangat mudah tapi bagiku itu berat.  Doa yang terjawab dengan begitu indahnya lewat takdir ini, meminta untuk dipertanggung jawabkan sekarang.  Kupikir pertanggung jawaban itu akan ada di akhir, akhir dari semua hidup ini.  Tapi mungkin Dia telah menyadarkanku untuk bangun dari mimpi kosong kehidupan ini, “Inilah Saat Pertanggung Jawabanmu”.  Dan ketika aku menyadari, banyak hal yang bahkan aku tidak paham mengapa aku bisa memilih apa-apa yang telah kupilih. Bodoh? Jelas.  Itu adalah kebodohan yang mutlak.  Tapi menyalahkan kebodohan diri tidak akan menjamin semua ini selesai.  Allah tidak akan memintai pertanggung jawaban bila manusia bodoh, tapi jelaslah bahwa manusia yang memiliki kemalasan.  Malas untuk lebih tahu, malas untuk berbuat kebaikan, malas untuk belajar, malas untuk berguna bagi orang lain, malas karena ingin bersantai-santai.  Kali ini, doa-doa yang dulu, meminta untuk dipertahankan atau dilepaskan.
Aku tidak pernah tahu berapa angka pasti betapa beruntungnya aku bisa hidup dengan merdeka dibanding ribuan manusia di luar sana yang sedang menderita atau setidaknya berapa ribu orang yang menginginkan ‘kehidupan kuliah’ seperti yang kudapatkan.  Tapi, rasanya tidak adil bila aku melepaskan doa-doa yang tertakdir itu, sekalipun menggenggamnya saja membuat hatiku sakit.  Benar-benar sakit.  Tapi, aku ingat  doa dan membutuhkan Dia lewat doa-doa baru.  Doa yang akan kusampaikan pada-Nya, bahwa aku sangat membutuhkan Dia.  Doa yang entah mengapa rasanya sakit setiap kali aku mengingatnya.  Sakit karena kupikir aku salah mengambil keputusan empat tahun yang lalu.  Atau kupikir aku salah telah hidup sebagai seseorang seperti aku.  tapi sekali lagi, kuingat bahwa yang tertakdir adalah jawaban dari Nya atas doa-doaku dan bukankah itu yang terbaik dari Nya?
AKT
TU: orang yg sedang berjuang mencapai cita-citanya

Sabtu, 08 Oktober 2016

Istimewa atau Tidak, Itu Urusan Hati (lanjutan)

Apa yang akan saya sampaikan sifatnya hanya pendapat. Bukan berdasarkan penelitian atau pembuktian ilmiah.


Ya hubungannya dengan hati. Yang mana logika tidak dapat berbicara dengan bebas di sini. Hati,  yang hampir selalu bersinggungan dengan niat.

Tentang Hati Part 2
Monday, July 25, 2016
9:30 AM
Setiap manusia memiliki motivasi atau bahasa manusianya adalah niatan yang berbeda. Itu lah penyebab terjadinya banyak pemandangan di ruang kelas, ah bukan kelas ini ruang pertemuan besar. Pembekalan. Bila saja semua orang sama, pastinya ruangan ini tidak ada berbagai 'pose' mengantuk atau ketiduran.
Berbicara tentang niat, saya jadi teringat awal masuk di Fakultas Kedokteran. Ketika itu, saya berniat menjadi dokter saja. Tidak ada impian muluk lain untuk bisa lebih wow atau memiliki sambilan selain menjadi dokter. Tidak terpikir pula bagaimana aspek 'lain' dalam kehidupan mendatang. Baru, suatu hal telah berhasil menuntun saya untuk sedikit membuka mata tentang apa yang dimaksud sebagai cita-cita. Alhasil, niatan saya di awal masuk kuliah dibandingkan sekarang, geser seratus delapan puluh derajat. Pengaruhnya? Bisa terlihat dari bagaimana menjalani kegiatan sehari-hari. Bukan berarti jadi lebih baik, atau menjadi luar biasa,  melainkan cara menempuhnya yang berbeda. Beda jalan, beda pula cara sampainya kan? Yang sebenarnya, bukanlah tujuan yang sangat berbeda dari cita-cita awal ketika memasuki kuliah. Melainkan, mempertajam perasaan untuk menyadari bahwa cita-cita awal masih terlalu dangkal. Visi yang kurang jelas. Sehingga yang perlu diluruskan dari setiap niat adalah bahwa cita-cita seharusnya disandarkan pada sesuatu yang sempurna, yang menguasai segala aspek kehidupan. Siapa? Allah, Tuhan Alam Semesta. Mengapa?

Ini kisah nyata. Mungkin, yang diceritakan di sini bukanlah satu-satunya yang pernah terjadi.
Pada awal tahun 2000-an, ada seorang anak SD yang sangat menginginkan untuk mendapat nilai UN tertinggi. Namun, ketika pengumuman UN hasilnya sangat mengecewakan. Dia yang biasanya juara kelas, berada di peringkat bawah dari hasil UN tersebut. Hal yang sama terulang lagi. Ketika dia menginginkan masuk SMA favoritnya, hasil UN berkata lain. Nilainya tidak lolos dalam pendaftaran. Perasaannya sangat kecewa. Bahkan sampai dirinya lulus SMA pun, masih sangat menyesalinya. Dirinya tidak menyadari, bahwa sebenarnya masalah itu berasal dari dirinya sendiri. Bukan hanya karena persiapan yang mungkin kurang matang, melainkan lupa bahwa segala sesuatu adalah Allah yang berkuasa. Sekuat apapun berusaha, kalau Allah tidak menghendaki, tidaklah mungkin terjadi. Namun, bukan berarti dalam setiap usaha seperti ingin mendapat nilai UN tertinggi dan cita-cita lain tidak perlu
diusahakan dengan susah payah. Usaha itu sangat penting dengan menyandarkan hasilnya pada Allah,serta berniat untuk beribadah kepada Allah. Kelak bila belum terwujud, masih kita syukuri sebagai sebuah ibadah, dan kita masih berkesempatan untuk beribadah lagi. Sehingga niat kita tidak akan luntur hanya karena belum dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Namun, niat itu adalah dari hati. Sedangkan hati adalah sesuatu yang rapuh. Bukankah Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam berdoa "Ya muqolli bal quluub, tsabbit qolbi 'ala dinik " (Duhai Sang Pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)? Dan beliau menyampaikan bahwa hati manusia berada dalam kuasa Allah, barangsiapa dikehendaki baik maka baik. Kita tidak pernah tahu kapan hati kita akan berbalik dari yang baik ke buruk atau dari buruk ke baik. Oleh karena itu, niat perlu diperbaiki, perlu direnungkan, perlu dievaluasi setiap waktu. Supaya kita tidak lupa sejatinya hidup dan
sejatinya niat kita melakukan sesuatu itu sudah terkoreksi atau belum.


Akt

Minggu, 03 Juli 2016

Istimewa atau Tidak, Itu Urusan Hati




Sudah sepuluh jam terlewati sejak adzan subuh pagi tadi dikumandangkan.  Terlalu cepat berlalu. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, yang setiap jamnya begitu lambat merayap. Terbayang pengalaman saat dulu mengikuti shalat tarawih di masjid dekat rumah. Saat itu, sepuluh tahun lalu, setiap ayat yang dibacakan sang Imam membuatku hanyut hingga mengantuk. Ya, itu dulu. Beberapa tahun yang lalu. Fenomena ini, tentu saja hampir semua orang sudah menduga hal tersebut ada hubungannya dengan akhir jaman yang semakin dekat.  Apakah aku memikirkan ini? Tentu saja.  Tapi ada hal lain yang lebih penting dari ‘sekedar’ memikirkan akhir jaman.  Ini tentang hati. Ssstt... tentang hati.
***
Sesi yang kelima ini memang cukup menarik dibanding empat sesi sebelumnya.  Semua peserta tampak antusias mengikuti materi yang diberikan pakar kesehatan tersebut.  Ada yang mengangguk-angguk tanda setuju, ada yang tersenyum penuh arti, ada yang tetap berusaha membuka mata walau kantuk menyerang, ada yang tampak lesu namun tetap memerhatikan materi.  Bukankah itu wajar? Sekarang pukul 13.15 yang pada umumnya tubuh membutuhkan waktu untuk rileks sejenak terutama di Bulan Ramadhan.  Semua orang beraktivitas dan di saat yang sama tubuh harus menyeimbangkan asupan sel tubuh yang disuplai di pagi buta, lalu baru akan disuplai lagi saat petang.  Logika yang biasa dipikirkan adalah wajar bila tubuh lelah, lunglai, dan lemas.  Semua orang akan memaklumi itu.  Tetapi kata logika tidak bisa berhenti di situ.  Tidak. 

lalu apa hubungannya dengan hati? 
Bersambung...

Senin, 26 Oktober 2015

Ternyata

Monday, October 26, 2015
5:27 PM
Pukul 15.30 WIB membuatku sedikit gelisah.  Sampai jam berapakah nanti di rumah? Mau melakukan apa saja di rumah dengan waktu yang mepet maghrib? Ya seputar itulah pertanyaan sok penting yang muncul dalam benakku.  15.35 WIB temanku se kamar di kontrakan yang baru ku tempati tujuh bulan itu, belum keluar dari tempat sholat.  Aku membatin, " Ayolah cepat keluar, mau menitipkan barang nih!"  aku agak kesal dan sebal karena dia lama sekali.  Walaupun dalam dua menit kemudian dia muncul dan malah balik menunjukkan wajah bertanyanya," Ngapain masih di sini?"(welah sudah ditunggu malah kaya begitu).  Aku hanya melirik, dan bilang kalau mau menitipkan buku.  Terjadilah diskusi tentang buku yang akan aku kembalikan lewat dia, dan buku ku yang masih di kamar, serta aku minta tolong untuk membawakan buku itu untukku besok.  Setelah diskusi singkat, kami pergi bersama menuju kantong parkir untuk segera mengambil motor dan pulang.  Sewaktu berjalan menuju kantong, rasanya lambat sekali, seakan-akan memang waktu mendukung ku dan dia (semacam romantic scene -,- astagfirullahaladzim)  yang memang sedang mencari sarung tanganku yang hilang entah jatuh atau kemana.  Alhasil, memang tidak ada di jalan ataupun di sekitar motorku.  Akhirnya kami pulang, dia ke kontrakan, dan aku kembali ke rumah.
Singkat cerita, sampailah di jalan daerah sebelum Pingit- yang ternyata-macet luar biasa.  Namun, anehnya aku tidak seemosian biasanya, yang biasanya aku langsung ngomel-ngomel sendiri dalam helm yang entah terdengar dari luar atau tidak pun aku tidak tahu.  Aku sedikit lebih sabar untuk menunggu kemacetan,  yang ternyata lagi disebabkan oleh antrian bus pariwisata yang mau belok ke arah malioboro.  Dua bus pun telah belok dengan susah payah, ya bayangkan saja tubuh sebesar itu masuk jalan seukuran jalan Samas lebih kecil lagi, mungkin saja bisa tapi dengan  kondisi lalu lintas sore hari? Ternyata oh ternyata, memang timbul kemacetan, dari arah utara, timur, selatan, tapi untung barat tidak.  Tetaplah macet menutup kebebasan akses, mobil-mobil pun terlihat kasihan karena harus antri panjang.  Waktu bus kedua lewat, aku menatap ke arah jendela besar dimana banyak terlihat penumpangnya juga sedang memperhatikan jalan. Kupasang muka dan mata serius supaya mereka sadar bahwa telah terjadi macet ( seperti flashback dulu pernah pakai bus pariwisata dan timbul macet).  Biar lengkap, kuperagakan sedang melihat jam tangan dan sok-sokan buru-buru pergi (maksudnya biar mereka sadar supaya besok tidak seperti ini)  yang kukira bisa jadi tidak ada pengaruhnya sama sekali, lagi pula siapa peduli dalam kemacetan yang telah menyita perhatian.
Akhirnya bisa lepas dari macet, dan bisa memasuki kawasan Dongkelan, lalu masuk jalan Bantul yang teduh dan nyaman, setelah itu sampai di perempatan Klodran ( seperti biasa, ambil ke kiri lalu bersiap menyapa Masjid Agung Bantul dari sebelah kiri).  Lumayan ngebut, wallaupun hanya 60 km/jam, jalan Ringinharjo pun terlewati.  Tetibanya di Kadirojo, ups ada polisi yang baru saja menaiki mobilnya dan masih ada satu motor patroli, yang bisa kutebak pasti tadi  ada 'cegatan' atau tilang dalam bahasa Indonesia-nya.  Alhamdulillah sih sudah selesai, coba masih ada, uuh pasti harus turun dari motor, dan segala rempong pun terjadi, harus senyum atau ramah sama polisi yang jadi petugas tilang( menurutku ini merepotkan *shikamaru style), walaupun aku membawa surat penting STNK,SIM, KTP, tetap saja cegatan jadi momen menyebalkan, karena harus melihat adek-adek SMA yang masih <17  merengek-rengek minta dilepas dari sanksi tidak lengkapnya surat-surat berkendaraan. 
Alasannya klasik sih, uang orang tua terbatas, apalagi harus bayar 50 ribu, lalu orang-orang dewasa yang alasan ketinggalan atau baru di perpanjang (sama juga aku dulu pernah ketilang). Bagiku, ada dilema tersendiri menyikapi fakta tilang ini.  Sebenarnya kasihan pada mereka yang memang tidak bisa main antar jemput atau sekadar naik bus untuk sampai ke sekolahnya, dikarenakan alasan ekonomi atau kesibukan orang tua.  Tapi di sisi lain, ketertiban itu memang harus diluruskan, supaya generasi mendatang menjadi orang yang taat pada aturan.  Kenyataanya, sampai sekarang aku belum menemukan adanya solusi bagi anak SMA yang belum berSIM ini, dari segi dua dilema tadi.  Setidaknya kesulitan yang dialami anak SMA yang belum ber-SIM ini, mengajak pikiranku bergelut sendiri memikirkan solusi yang ternyata belum ada. 

Setelah berkutat dengan nostalgia ketilang beberapa waktu lalu dan mencoba mencari solusi anak SMA non SIM, selanjutnya aku menuju Sanden.  Sepanjang jalan, aku berpikir tentang kemacetan yang kualami tadi, TERNYATA mengajakku untuk bersyukur bahwa aku tidak harus melalui proses tilang oleh Polisi lalu lintas. TERNYATA ada hikmahnyaa. Alhamdulillah….


AKT

LELAH BERNAPAS

Lelah Bernapas
Tuesday, October 20, 2015
9:56 PM
Episode dimana terasa melelahkan untuk bernapas, entah rasanya seperti apa lelah bernapas.  Tapi yang jelas, makhluk sperti ini sudah bosan hidup.  Bernapas adalah suatu anugrah, tak terhingga, yang entah kapan akan dicabut dari tubuh ini.  Mungkin, karena mereka (atau saya) tidak pernah mengalami gagal napas, bisa mengatakan lelah bernapas.  Yang ternyata tidak bisa bernapas itu menyakitkan.  Pastinya menyakitkan. 

Terlintas untuk segera meninggalkan dunia yang penuh keributan ini.  Tapi, terlalu dini untuk pergi di tengah orang-orang yang berharap banyak pada diri ini.  Terlalu awal untuk berpamitan pergi mendahului, sebelum ada hadiah yang harus diserahkan, terlalu awal untuk mengakhiri yang belum selesai, terlalu awal untuk pergi tanpa peduli akan hutang yang belum terlunasi, terlalu keterlaluan dengan dosa yang berlipat-lipat dan masih menumpuk setinggi gunung yang malah belum dimintakan ampun kepada Allah SWT.  Terlalu kini untuk meneggelamkan 'perahu' yang ingin menjadi bahtera ini, yang belum sempat terwujudkan dengan menyampaikan, yang harus dibuat melayang supaya tak terlihat mata, dan tidak karam lalu tenggelam di dasar lautan luas.   Terlalu  dini.

Lelah bernapas mungkin cuma salah satu alasan dari sekian alasan yang mungkin logis untuk diterima (atau mungkin lelah bernapas adalah alasan yang sangat kurang logis), dibanding alasan-alasan mengherankan lain.  Ada yang kehilangan belahan jiwa, ada yang kehilangan kekayaan, ada yang kehilangan akal (atau saya termasuk ini?), ada yang kehilangan arah karena merasa dikhianati hidup.  Mengherankan bukan? Hidup itu memang hakikatnya akan penuh dengan masalah, tanpa masalah berarti bukan hidup.  Sehingga alasan itu bukanlah yang patut diterima, iya kan?

Lelah bernapas,  mungkin ini akan jadi kecaman besar bila memposting kan di media sosial, dimana ada ribuan orang yang tengah berjuang mati-matian untuk bisa bernapas dengan bebas di udara yang bersih, dimana ada ribuan orang terengah-engah mencoba tetap hidup dengan udara kotor yang sangat membosankan.  Mengapa di saat orang-orang membutuhkan udara bersih, saya berpikir untuk lelah bernapas? Hanya karena lelah bernapas? Saya rasa itu hanya excuse yang tidak masuk akal.  Saya rasa lebih tepatnya karena keputusasaan akan hidup, sama halnya dengan alasan mengherankan di atas, yang tidak bisa diterima akal sehat.  Jadi, buat apa meneruskan pemikiran lelah bernapas?  Itu hanya menyita waktu dan tenaga. 

Janganlah lelah untuk bernapas, tapi lelahlah untuk mengeluh ketika selalu berhasil  bernapas.-an0nim-

AKT

Rabu, 17 Juni 2015

Satu Bulan Lamanya


Satu bulan lamanya, telah banyak berlalu hal-hal yang aku sendiri sangat bingung mengapa bisa kulakukan.  Andaikan saja, seharusnya, bagaimana jika, merupakan kata-kata yang banyak keluar dari mulut saya.  Astagfirullahaladzim, betapa tidak tahu bersyukurnya diri ini.  Bukan.  Aku tidak bermaksud seperti itu.  Aku hanya menyesali mengapa menjadi orang yang selalu ingin terlihat peduli akan kesulitan orang lain, sekalipun ternyata itu bukan merupakan kesulitan berarti bagi orang yang aku "tolong".  Semoga Allah meluruskan niatku.

Namun, tetap saja kata-kata itu bila diucapkan dengan motif apapun, hasilnya adalah kufur nikmat.  Yang tandanya adalah, hati ini belum tulus setulusnya untuk melakukan hal tadi, apalagi diikhlaskan untuk Allah.  Hati ini masih perlu di luruskan dan dibersihkan.  Memang benar, berbuat dosa, sama saja dengan membuat hati menjadi bernoda. Semakin banyak dosa, semakin banyak pula noda yang kita buat, maka semakin tebal menutupi hati. Semakin tertutuplah hati dari kebenaran dan kebeningan.

Beberapa kata-kata di atas, hanya sebagian kecil yang ingin aku ucapkan keras-keras.  Aku ingin bilang pada Allah, " Ya Allah, tolong jangan ijinkan aku menyerah".  Kurasa kata seperti itu yang patut aku batin dan ucap disetiap doaku.  Karena aku ingin berhenti sekarang.  Aku ingin berhenti mencintai diriku sendiri, mencintai orang lain.  Karena aku sudah lelah, selama aku introspeksi diri, sepertinya aku adalah orang yang selalu salah.  Selalu bernilai salah, sehingga harus selalu aku yang mengakui salah, menerima kekalahan. 

Walaupun mungkin benar, aku adalaah orang yang selalu berbuat salah.  A woman who always be wrong. sehingga kata maaf akan selalu muncul dariku.  Tidak apa.  Selama aku masih melakukannya untuk kebaikan dan bukan kejahatan, aku berusaha untuk mengurangi kadar kesalahanku.  sebagai manusia memang wajar bila salah selalu terjadi.  tapi, ini bukanlah alasan.  Bila ada pensil, tentunya ada penghapus, bila ada kesalahan, insyaAllah ada penghapusnya.  bismillah, aku berusaha



akt